Lambat Untuk Marah

Viewed : 1,387 views

Yakobus 1:19
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.

Membaca ayat di atas, kita sering melakukan sebaliknya; kita cepat berkata-kata dan lambat mendengar serta cepat marah.

Begitu cepat kita berkata apa yang seharusnya tidak perlu dikatakan. Akhirnya kita sering menyesal juga dengan kata-kata sendiri, sebab kata-kata yang sudah keluar tidak dapat ditiadakan dan tak dapat dikembalikan, itu sudah menjadi milik umum.

Kalaupun kita marah karena hati panas dan begejolak, tetapi bila tidak / belum keluar dalam bentuk kata-kata, kita masih aman. Namun bila sudah keluar, terlebih apalagi ternyata kita yang salah, salah satu cara perbaikannya adalah minta maaf. Itupun syukur jika orang memahami dan memaafkan. Bila tidak, tentu muncul persoalan, dan ini perbuatan sia-sia tak berarti.

Dalam kelemahan, kekurangan dan keterbatasan, kita sering lamban mendengar nasihat. Bahkan kita menutup hati untuk mendengar apa yang sebetulnya baik buat kita. Kita sering merasa bijak dan pintar sendiri.

Sahabat…
Sebagai anak-anak Tuhan, mari kita ikuti Yakobus 1:19. Dengan demikian pasti keadaan kita menjadi lebih baik. Relasi kita dengan sesama pasti menjadi lebih erat. Dan terlebih nama Tuhan dimuliakan melalui kita.
P e r c a y a l a h !

Selamat beraktivitas.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by engin akyurt on Unsplash

Comments

comments