Yohanes 6:27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.
Ada sebuah suku dimana dalam upacara kematian, acaranya begitu meriah bagaikan pesta besar selama berhari-hari. Dibuat acara semarak. Banyak ternak dipotong. Tentu banyak biaya yang dibutuhkan. Sepertinya harta yang diperoleh sekian lama, sebagian besar dipergunakan untuk upacara itu.
Bagi kita yang tidak memahami, mungkin kita berpikir dan bertanya mengapa seperti itu?
Pastilah ada pandangan tertentu yang kurang kita ketahui.
Kemungkinan dibuat acara sedemikan meriah dalam rangka untuk mengantar keluarga yang meninggal itu ke dunianya yang abadi. Jadi dibuat acara semeriah mungkin.
Kalaulah pandangan seperti itu benar, maka rasanya dapat juga diterima akal. Keluarga dan kerabat yang ditinggal serasa berada dalam kebersamaan untuk melepas anggota keluarga ke tempat kekal dengan biaya mahal. Biaya mahal itu benar-benar dipersiapkan.
Bagaimana dengan manusia yang bagaimanapun juga akan pergi ke SEBERANG SANA?
Sudahkah dipersiapakan?
Apa yang dipersiapkan?
Sama halnya dengan suku yang menyiapkan banyak dana untuk acara yang diadakan pada saat tiba waktu batas antara hidup dan mati, maka bagaimana gerangan kesiapan orang-orang menghadapi hari batas antara hidup dan kematian?
Tampak semua orang sibuk… sibuk untuk apa?
Apakah ada kaitannya dengan kekekalan dalam semua kesibukan yang ada?
Apakah terlepas hubungan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita akan alami dalam kekekalan?
Mungkin pertanyaan tersebut di atas tidak disukai.
Mungkin pertanyaan ini tak menarik, bodoh, serta tampak mengada-ada.
Mungkin pertanyaan ini terlalu sering didengar dan dianggap cocoknya untuk orang yang sudah usia lanjut.
Seperti itukah?
Mari merenung sejenak untuk kita berpikir akan arti hidup kita sesungguhnya.
Untuk apa sebetulnya kita ada?
Kita harus dan wajib bekerja keras dalam hidup ini. Ada banyak tanggung jawab kita dalam pekerjaan. Kita harus berkarya. Kita juga memiliki kewajiban sesuai profesi dan panggilan kita. Jangan sampai terabaikan. Jangan sampai rapor kita warna kuning dalam dunia kerja, apalagi warna merah, jangan!. Akan tetapi jangan jugalah sampai lupa dengan kekekalan.
Ingatlah, ini penting!
Milikilah pola hidup seimbang antara kewajiban kita di dunia ini dengan apa yang kita persiapkan untuk dunia akan datang ke mana kita akan pergi, dan alangkah baik dan indahnya bila hal itu berhubungan dan sejalan.
Dalamilah pesan Yesus dalam ayat di atas, ”Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal … … …”
Selamat beraktifitas.
Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Icons8 Team on Unsplash




