12. Pesta

Viewed : 796 views

Dan ambilah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. (Lukas 15:23)

Pesta dengan hidangan terbaik, anak lembu tambun, dimulai. Sebuah cita rasa istimewa, daging yang empuk, lembut, harum dan lezat dengan segala menu pendukungnya dilakukan. Semua orang menikmati suasana pesta yang istimewa. Ekspresi sukacita yang ingin diungkapkan oleh sang ayah menuju puncaknya.

Hari ini adalah hari istimewa. Semua yang terbaik disajikan.

Sebuah pesta, ya sebuah pesta dan bukan sebuah penghakiman. Semua dosa dan pelanggaran tidak diungkit-ungkit lagi, bahkan telah dilupakan. Penerimaan tanpa syarat dan pemulihan hak keanakan telah dikukuhkan, dan banjirlah sukacita dan bahagia yang tiada hentinya.

Pesta makan adlaah salah satu bentuk kebudayaan manusia yang penting. Sudah terpatri dalam masyarakat bahwa pesta makan merupakan puncak ucapan syukur yang secara sosial diterima oleh masyarakat. Sukacita, ucapan syukur, keselamatan, dan pendamaian semua diungkapkan melalui pesta makan. Undangan untuk mengikuti hal ini adalahundangan untuk bersama-sama bersukacita karena yang hilang sudah kembali.

Pesta untu menyatakan ucapan syukur dan merayakan pemulihan hubungan yang terjadi. Pesta untuk meneguhkan penerimaan dan disatukannya kembali relasi bapak-anak.

Semua orang bersukacita. Suara canang yang bergemerincing, dan gong yang berkumandang, serta alunan rebana dan kecapi menambah semaraknya suasana pesta. Kampung yang sunyi senyap tiba-tiba menjadi gegap gempita dalam sekejap karena perayaan sukacita yang diadakan.

Tidak hanya bapak dan anak, tetapi semua hamba, dan para tetangganya pun turut mengalami sukacita. Sukacita itu merasuki seluruh pelosok kampung itu. Setiap saatorang datang untuk turut merayakannya. Dari kampung yang jauh dan dekat mereka datang berbondong-bondong. Setiap tamu yang datang mengulang kembali kisahyang berakhir sukacita tersebut, setiap detik kisah sukacita ini mendapatkan penguatan. Mulut demi mulut menyaksikan kisah kasih yang terjadi, dan mengalir kepada setiap orang.

Kisah ini membuktikan kebenaran kasih karunia sang bapak kepada anaknya. Kisa ini membuktikan kuatnya kasih melawan segala hukum tradisi di kampungnya, yang menghauskan hukuman kepada anak yang durhaka. Sebuah kebenaran baru dihadirkan di kampung tersebut, yaitu kebenaran karena kasih.

Banyak penduduk kampung yang dibingungkan dengan peristiwa yang telah dengan cepat berlangsung, masih banyak pertanyaan di dalam benaknya, tetapi mereka terimbas dengan gelombang sukacita yang dengan kuat menyebar ke seluruh pelosk kampung.

Anak yang hilang telah kembali.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by Hai Nguyen Tien from Pixabay

Comments

comments