Para sahabat yang terkasih,
JIkalau saya mempunyai sebuah alat perekam, dan kemudian saya merekam sebuah doa dengan bahasa yang paling fasih, ungkapan yang paling indah, pengungkapan yang paling khusyuk, dengan intonasi yang terjaga, pun saya tambahkan sebuah musik latar yang dapat memperkuat nuansa doa saya. Kemudian ketika waktunya saya berdoa, maka saya putar ulang rekaman tersebut, sebanyak yang saya inginkan.
Bukankah doa saya adalah doa yang sempurna?
Atau ketika saya mendaras ayat-ayat suci, saya cukup memilih bagian yang saya inginkan di dalam data base ayat-ayat suci tersebut, dan suara seorang yang syahdu mewakili saya di dalam melafalkan ayat-ayat suci tersebut, sambil duduk hikmat di dalam sebuah ruangan home theater yang mutakhir serta dekorasi interior yang sesuai dengan sensasi religi saya.
Bukankah hal itu mampu meningkatkan kualitas iman saya?
Bahkan bisa jadi dengan kemajuan teknologi, saya dimungkinkan untuk mengkonsumsi sebuah pencitraan religi yang cocok dengan selera saya. Melaluinya pendekatan teknologi multimedia yang semakin canggih dan pencitraan yang pas saya bisa mengalami ekstasi rohani secara nyata.
Bukankah amal ibadah saya menjadi menarik?
Kemajuan teknologi memudahkan saya berkomunikasi melintasi batas-batas geografi dengan semua orang. Teknologi ini memudahkan saya untuk memenuhkan kebutuhan-kebutuhan saya di dalam berbagai bidang kehidupan. Teknologi ini memudahkan saya di dalam berkomunikasi, mendapatkan informasi, mengelola informasi, menyampaikan informasi, mendapatkan nilai tambah dari informasi. Teknologi ini memanjakan saya dengan segala informasi yang ditampilkan melalui pendekatan multimedia yang dilakukan, Teknologi ini mendekatkan saya secara geografis dengan orang-orang yang saya kasihi, dan sebagainya. Sampai titik tertentu teknologi informasi dan telekomunikasi ini memungkinkan saya meloncat dari sebuah dunia realitas menjadi dunia hyper-realitas. Semakin banyak orang dewasa ini diperkirakan ada dalam keadaan Hyper-reality. Media gambar, Internet,komputergame dan dunia maya (virtual) secara intensif mengajak orang keluar dari dunia nyata di dalam frekuensi yang lebih sering dan untuk waktu yang lebih lama daripada sebelumnya.
Istilah Hyperreality dicirikan dengan ketidakmampuan kesadaran manusia untuk membedakan antara kenyataan dari fantasi, terutama dijumpai dalam budaya postmodern berteknologi maju. Hyperreality adalah sarana bagi kesadaran manusia untuk mendefinisikan apa yang sebenarnya “nyata” di dunia di mana banyak media yang dapat secara radikal membentuk dan menyaring peristiwa atau pengalaman asli digambarkan. Sebagian besar aspek Hyperreality dapat dianggap sebagai “realitas oleh proxy.”
Dalam esainya “The Hyperreality Paradigma”, John Tiffin menyatakan bahwa Hyperreality berbeda dari lingkungan virtual.
Virtual reality adalah “sebuah teknologi yang memberikan realitas yang dihasilkan komputer yang merupakan alternatif realitas fisik.” Dengan HMDU (Head-Mount Display Unit) orang dapat pergi dalam dunia virtual tiga dimensi yang telah disediakan dengan informasi dalam database komputer. Menciptakan informasi gambar yang dikeluarkan dari dunia “nyata” dan dibuat dalam dunia virtual. Suara dan gambar adalah ditujukan kepada telinga dan mata. Dengan menggunakan data sarung tangan orang bisa merasakan perasaan sentuhan di dunia maya juga.
Hyperreality, bagaimanapun berbeda dengan virtual reality. Hyperreality menciptakan virtual reality menjadi pengalaman dalam realitas fisik, sehingga realitas virtual dan realitas fisik berinteraksi satu sama lain. Virtual reality menyediakan dunia virtual yang tampak lebih “meyakinkan” untuk orang-orang yang mengalaminya. Namun, Hyperreality, menyediakan “HyperWorlds” yang mengaburkan batas antara apa yang “real” dan apa yang “virtual” dan membuatnya tampak “natural”.
Kenyataan palsu ini menciptakan ilusi dan membuatnya lebih menarik bagi orang untuk membeli dan mengkonsumsi realitas ini, dan merasa bahwa teknologi dan suasana yang diciptakan “dapat memberi saya realitas lebih dari yang dapat alam diberikan” Dan ternyata inilah yang sekarang menjadi penggerak konsumerisme yang mutakhir. Di dalam pandangan ini kepuasan atau kebahagiaan ditemukan melalui simulasi dan imitasi tiruan dari realitas sementara, daripada setiap interaksi dengan setiap realitas yang “nyata”.
Kemajuan teknologi saat ini memang memudahkan saya di dalam banyak hal, secara khusus kemajuan di dalam teknologi informasi dan telekomunikasi mendobrak batas-batas geografis antar umat manusia di bumi ini. Tetapi apakah hal itu juga memberi dampak di dalam hubungan saya dengan Sang Khalik?
Pada kenyataannya teknologi juga bisa menggantikan realitas Sang Khalik yang “nyata”, menjadi hanya gambaran “virtual” melalui enkripsi kode-kode elektronik, atau bahkan membentuk pencitraan “hyper-reality” yang palsu seolah mewakili kehadiranNya. Saya seolah puas dan berbahagia ketika bertemu melalui simulai dan imitasi tiruan dari realitas sementara. Dan saya kecanduan untuk terus menkonsumsinya di dalam berbagai bentuk dan rupa sesuai dengan preferensi religi saya. Ketika saya terjebak demikian, maka hal tersebut sudah menjadi berhala. Dan ketika realitas Sang Khalik hanya menjadi sebuah produk consumerism maka saya sudah mereduksi dan merendahkan keberadaanNya.
Kembali kepada ilustrasi di bagian atas, akhirnya saya mengakui bahwa hubungan hakiki saya dengan realitas Sang Khalik tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, meskipun teknologi menghadirkan pencitraan “virtual reality” atau pencitraan “hyper-reality” untuk memperpendek ruang dan waktu tersebut dan menghadirkan realitas itu seolah sangat dekat dengan saya atau seolah saya bisa menjamahnya. Meskipun alat perekam doa saya bekerja dengan sempurna untuk menyampaikan untaian doa-doa saya, dan peralatan multimedia saya membangun sensasi religi saya, dan atau pilihan aktivitas religi saya menjadi sangat nyata dan mengasyikan, namun Allah menghendaki hati saya, hati yang hancur dan merindu belas kasihan, anugrah dan kebenaranNya.
Karena penyembahan saya kepada Allah Sang Khalik, adalah penyembahan di dalam realitas ruh dan kebenaran, sebuah platform penyembahan yang sama sekali berbeda telah dinyatakan. Karena doa saya bukan hanya sekedar kata-kata terlantun indah sempurna, tetapi justru ungkapan paling kacau dari dalam kegalauan hati saya justru didengarNya. Karena ayat-ayat suciNya itu sepatutnya hidup, berkuasa, dan mengubahkan hidup saya dan sesama saya. Karena amal dan ibadah saya itu bukan sebuah media pencitraan diri saya, tetapi kebenaranNya yang dinyatakan di dalam kehidupan saya. Semua itu nyata, bukan “virtual reality” dan juga bukan “hyper-reality”, dan saya tidak perlu seorang atau sebuah “proxy” untuk mengenalNya.
Selamat menerobos ruang dan waktu.
Salam
Teja, 13/9/2019
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |



