Prodigal God

Viewed : 2,156 views

Sahabat yang terkasih,

Judul di atas diinspirasi oleh sebuah kisah yang disampaikan oleh Yesus Kristus tentang anak hilang yang pulang kembali ke rumah ayahnya. Ketokohan si anak hilang ini yang membuat kisah ini menjadi terkenal dan sering disebut kisah Anak Hilang/Prodigal Son.

“Prodigal” dapat diartikan sebagai boros, suka menghambur-hamburkan harta, royal, tetapi juga di dalam arti yang positif berlimpah-limpah, bahkan karena kesungguhannya di dalam memberikan kepunyaannya maka dapat diartikan habis-habisan, berlebih-lebihan di dalam mencurahkan segala yang dimilikinya.

* * *

Cerita yang disampaikan oleh Yesus Kristus secara singkat demikian :

Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Membaca kisah tersebut, naluri moralistik saya secara umum mengatakan bahwa Anak Bungsu yang telah meminta warisan kepada ayahnya bahkan sebelum ayahnya meninggal dunia adalah anak yang durhaka dan kurang ajar. Dan secara umum saya akan mengapresiasi Si Sulung yang telah menjadi anak yang taat kepada orang tuanya.

Tetapi ketika mencerna bagian itu secara lebih mendalam, ternyata tokoh utama dari kisah ini adalah Sang Ayah itu sendiri.

Si Bungsu yang adalah tokoh antagonis, Si Prodigal Son, yang telah memboroskan harta kepunyaan ayahnya dan hidup secara tidak bermoral, dan kemudian datang kembali kepada ayahnya di dalam kemelaratannya. Harga dirinya hancur, bahkan nilainyapun lebih rendah dari orang upahan di rumah orang tuanya. Tetapi justru di situ nampaklah belas kasihan ayahnya yang melimpah atas kehancuran hidupnya, dan ayahnya melimpahkan dan memulihkan segala kehormatan anak yang bungsu tersebut.

Ayahnya habis-habisan, tidak tanggung-tanggung, menghamburkan segala kepunyaannya, bahkan harga dirinya untuk menerima anak yang hilang ini. Sebuah pesta anak lembu tambun, nyanyian dan tarian dihadirkan untuk menyambut kepulangan Si Bungsu, yang telah mati tetapi hidup kembali. Sebuah happy ending bagi Si Bungsu.

Sebaliknya bagi Si Sulung, orang yang sungguh taat tetapi juga tidak mengalami sukacita, adalah kisah yang ironis. Di dalam ketaatan kepada ayahnya, ternyata ia tidak mengalami sukacita. Ia iri dengan pesta penyambutan adiknya yang tidak tanggung-tanggung. Di dalam ketaatannya kepada ayahnya, ternyata ia kehilangan relasi yang sejati dengan ayahnya, pun dengan adiknya. Tidak ada seberkas kasih yang dinyatakan kepada mereka.

Mencerna kisah ini hanya sebagai sebuah nasihat moral, jangan seperti Anak Bungsu, tetapi hiduplah taat seperti Anak Sulung akan menghilangkan makna yang terdalam dari kisah ini. Tokoh cerita ini adalah sang ayah. Ia yang menjadi pusat dari segala peristiwa yang terjadi, bukan Si Bungsu, si Prodigal Son, dan juga Si Sulung.

* * *

Di dalam kesesatan, pemberontakan, kebodohan Si Bungsu, Sang Ayah tetap menyatakan kasih yang berlimpah, royal, boros, tanpa hitungan, tanpa syarat kepada anaknya yang telah hilang ini.

Bahkan Sang Ayah yang terlebih dahulu menyambut kepulangan anaknya, tak terduga, lebih dari apa yang Si Bungsu pikirkan. Sang Ayah tidak menjaga reputasinya, namun justru merendahkan dirinya, membuang segala gengsinya untuk menyambut kepulangan anaknya serta merayakannya.

Namun di luar tempat pesta itu, Si Sulung yang taat, dan bermoral itu bermuram durja, tidak mampu merayakan kisah bahagia ini. Hal ini melukai rasa keadilannya, karena ia kehilangan kasihnya, dan menjadi beku di dalam ketaatannya. Pesta itu sungguh di luar segala pertimbangannya.

Ada bahasa yang berbeda, yaitu bahasa kasih yang dinyatakan oleh Sang Ayah di dalam peristiwa ini. Anak Bungsu itu mengalami kasih penerimaan tanpa syarat, dan dia dipulihkan lagi harkat martabatnya sebagai anak, karena Sang Ayah yang menanggung resiko segala kesalahannya. Semua usaha untuk memahami ini di luar bahasa tersebut (bahasa kasih) membuat cerita ini hanyalah sebuah pepesan kosong.

* * *

Sebuah ungkapan dalam Bahasa Jawa saya pikir tepat untuk mengekspresikan sikap dari Sang Ayah ini, ”babar pisan”, habis-habisan ia memberikannya secara berlimpah, royal, boros, tanpa hitungan, tanpa syarat kepada anaknya yang nakal ini. Si Anak bungsu mengalami sukacita yang tanpa syarat, ia pun tidak mampu membalas semua itu, kecuali menyerahkan hidupnya di dalam rengkuhan kasih ayahnya.

Di dalam pemahaman saya, Sang Ayah adalah penggambaran Allah sendiri. Dialah Prodigal God. Allah yang tidak pernah berhitung untuk melimpahkan segala anugrah dan kebenaranNya kepada setiap orang yang hancur hati mencari Dia, bahkan yang terbesar dariNya pun telah dianugrahkan kepada manusia.

Dia yang tidak menyayangkan Sang Anak yang datang daripada-Nya, melainkan telah menyerahkan-Nya bagi kita semua, masakan Ia tidak menganugerahkan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Sang Anak itu? (Rom 8:32)

Salam
Teja, 22/7/2019

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by CCXpistiavos from Pixabay

Comments

comments