Upah Pekerja

Viewed : 1,919 views

Matius 20:15
Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Kutipan ayat di atas adalah bagian dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang upah yang diberikan oleh seorang pemilik kebun anggur terhadap para pekerja.

Tuan memberi upah yang sama kepada pekerja yang mulai bekerja sejak pagi dengan yang bekerja ketika pekerjaan hampir selesai.

Lantas orang yang bekerja lebih lama menuntut upah yang lebih besar. Mereka merasa tuan pemilik kebun anggur bertindak tidak adil karena upah disamakan.

Kita juga mungkin berpikir sama dengan pemikiran para pekerja itu. Kita yang sudah lama melayani merasa akan dapat upah lebih banyak. Kita merasa upah kita berbasis waktu dan jasa. Bahayanya sering adalah kita merasa berjasa kepada Tuhan. Apa jasa kita? Tidak ada !

Akan tetapi Allah tidak seperti itu. Sesuka hati Allah memberi upah dan bagian kita masing-masing sekarang dan kelak. Otoritas-Nya itu. Semua anugarah dan kasih karunia!

Jika kita menuntut upah lebih besar karena merasa bahwa kita lebih berjasa dalam banyak hal terutama dalam pelayanan, itu adalah pertanda bahwa kita menempatkan posisi buruh di hadapan Tuhan. Kita sedang merendahkan posisi kita. Dan hal itu sering jadi masalah besar. Kita menjadi penuntut.
Maukah kita seperti itu?
Janganlah !

Posisi kita lebih tinggi dan sangat tinggi. Kita bukanlah buruh Tuhan, tetapi kita berstatus anak di hadapan Tuhan. Karena itu, ketika kita berbuat sesuatu atas nama-Nya, bukan bergantung upah berapa, tetapi semua kita lakukan atas dasar kasih kepada Allah sebab kita adalah anak-Nya.

Tujuan kita semestinya melakukan sesuatu bukanlah seberapa banyak kita akan dipuaskan dan ingin diingat-ingat orang, namun sejauh mana Allah berkenan serta sejauh mana Dia tersenyum atas semua karya dan pekerjaan kita. Ekstrimnya kalau boleh dikatakan adalah bahwa walaupun tidak mendapat penghargaan dari manusia, bila Tuhan tersenyum dan berkenan… lakukan sajalah !

Tetapi tentulah Allah tidak akan pernah kalah memberi. Apa yang Allah beri selalu baik dan terbaik. Hanya saja kita haruslah menyikapi segenap pemberian Allah dengan memposisikan diri sebagai anak dengan penuh ucapan syukur, bukan sebagai sikap buruh yang penuh tuntutan.

Selamat beraktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai kita anak-anak-Nya.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Comments

comments