Kita Adalah Bait Allah yang Kudus

Viewed : 408 views

Efesus 2:21-22
Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Ketika melihat tukang sedang bekerja membangun rumah, dia seakan berkuasa atas semua material yang digunakan.

Batu bata yang kepanjangan dipotong agar pas dengan bata yang telah dipasang sebelumnya.

Semen yang terlihat mengering ditambah air, dan semen yang kebanyakan air ditambah semen dan pasir agar pas untuk menyemen.

Besi yang terlalu panjang dipotong dengan pemotong, yang terlalu pendek disambung dengan besi lain dengan cara dilas, sehingga pas ukurannya.

Kayu yang tampak kasar diserut hingga halus. Kayu itu dipotong dan dipaku sehingga bersatu dengan kayu lain. Hal ini membuat ukuran dan letak kayu menjadi pas sesuai fungsi dan penempatannya.

Semua material seakan kesakitan diperlakukan tukang. Maklumlah material bangunan itu benda mati sehingga tidak ada yang melawan. Kebayang kalau material itu dapat berkata-kata, pasti dia bicara untuk menolak, bahkan protes mengapa ia diperlakukan seperti itu. Ia marah.

Andaikan material itu punya kaki, ia akan berlari menjauh untuk menghindar, atau bersembunyi agar tidak terlihat tukang, sehingga bebas dari tangan tukang yang dirasa menyakitkannya.

Tuhan bagaikan TUKANG yang sedang membentuk kita sebagai material untuk dijadikan rumah yang indah. Kita diinginkan menjadi bagian dari bangunan bait Allah yang kudus. Prosesnya sering tidak nyaman bahkan menyakitkan agar sesuai dan pas dengan ukuran yang semestinya.

Bedanya kita dengan material adalah kita bukan benda mati. Kita bukan robot yang dapat disetel dengan mudah. Kita bukan mesin otomatis yang dapat bergerak spontan. Kita makhluk hidup yang diberi kebebasan untuk memilih. Kita seakan diberi hak untuk mau atau tidak mau dibentuk. Dalam hal itulah banyak yang lari menghindar. Ada yang protes. Ada yang bersembunyi di balik alasan yang tampaknya masuk akal juga. Hanya sedikit yang bersedia dan rela dibentuk dan setia ikut rencana Allah untuk dibangun. Lebih banyak yang tidak mau.

Kita termasuk yang sedikit atau yang banyak?

Semoga kita menjadi bagian dari yang sedikit itu.Tentu doa dan harapan kita agar yang sedikit itu dapat terus bertambah. Juga agar yang sedikit itu tidak keluar dan tidak pindah ke himpunan yang banyak itu.

Biarlah kita menjadi bagian dari bangunan yang rapi tersusun dan dibentuk, menjadi bait Allah yang kudus.

Hendaklah kita turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, sehingga Allah yang menjadi Pemilik dan Arsitek atas terbentuknya kita… menjadi puas… seakan Dia berkata tentang kita, “Aku puas!”
P u j i T u h a n !

Selamat beraktifitas.
Selamat bekerja.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan menolong kita menjadi bangunan bait Allah yang rapi tersusun dan indah. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Freepik

Comments

comments