15. Marah

Viewed : 1,112 views

Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkannya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. (Lukas 15:27,28)

Ia marah. Kemarahannya semakin memuncak ketika mengetahui bahwa anak lembu tambun telah disembelih oleh ayahnya untuk menyambut kedatangan adiknya. Bukan perkara yang mudah baginya untuk memahami keputusan ayahnya. Bukan hanya tidak mampu memahami, tetapi bahkan mustru mengusik nilai-nilai yang dia pegang selama ini. Dia menjadi tersinggung. Mengapa ayahnya tidak menanyakan kepada dirinya? Mengapa ayahnya tidak memberitahukan kedatangannya? Mengapa harus memotong anak lembu tambun? Mengapa semua orang diundang ke pesta? Mengapa ada pesta?

Tidak boleh ada pesta. Tidak pula seekor anak lembu tambun untuk pesta bagi adiknya. Adiknya harus mengganti segala dosa dan kesalahannya.

Jikalau adiknya kembali ke rumah orang tuanya dengan segala keberhasilan di dalam hidupnya, serta dengan harta kekayaan yang berlipat ganda dibandingkan kepergiannya, mungkin sikap si sulung akan berubah. Karena anak lembu tambun yang disembelih akan dengan mudah tergantikan dengan segala harta kekayaan adiknya. Tetapi tidak demikian, adiknya datang dengan segala kebangkrutan hidupnya, dan hanya sekedar pakaian yang melekat di tubuhnya untuk menutupi ketelanjangannya. Tidak ada yang dapat dimegahkan dari dirinya.

Si sulung tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan sikapnya. Ia tidak dapat memahami bahwa ada yang lebih kuat dari segala harta yang dia permasalahkan, yaitu kuasa hubungan ayah-anak yang lebih besar dari segala hal remeh temeh yang dia permasalahkan. Si sulung secara tidak sadar telah menurunkan derajat dirinya di dalam hubungan dengan ayahnya, dia hanyalah seorang upahan yang taat di dalam rumah bapaknya. Ia tidak menyadari kekayaan hubungan antara dirinya sebagai anak dengan bapaknya.

Ia marah dan cemburu, karena segala peristiwa yang terjadi di depan matanya diluar harapan yang selama ini dia perjuangkan. Hal ini membutakan mata hatinya untuk melihat perkara yang sederhana namun indah yang terjadi, adiknya yang hilang telah kembali. Ia menuntut adiknya diperlakukan sebagai orang upahan; sebuah pemikiran yang sebenarnya pun pernah dipikirkan oleh adiknya ketika memutuskan pulang.

Ia tidak ikut masuk untuk berpesta.

Ia tidak menyambut adiknya, dan menerima kedatangan para tamu ke dalam rumahnya. Ia tidak ikut memastikan bahwa pesta dapat berlangsung dengan baik dan semua tamu terlayani dengan baik. Ia menganggap apa yang dilakukan oleh ayahnya adalah murahan.

Ayahnya tidak mempertimbangkan itu semua. Ia justru seorang ayah yang bermurah hati, dan tidak tanggung-tanggung melimpahkan semua kekayaannya, habis-habisan, untuk menyambut kedatangan anak bungsunya. Si bungsu adalah tetap anaknya, meskipun ia pernah membuatnya sedemikian terluka. Ayahnya adalah korban dari perilaku anaknya yang bungsu, dia juga adalah satu-satunya pihak yang paling sah untuk menetapkan syarat penerimaan anak yang bungsu, dan penerimaan itu adalah tanpa syarat.

Kepulangan si bungsu menjadi jawaban kerinduan hatinya.

Si sulung memboikot pesta anak lembu tambun. Kesombongannya menghalanginya untuk menikmati pesta yang sedan berlangsung. Dia terasing ditengah keramaian sukacita yang sedang berlangsung, secara tersembunyai dia beranggapan bahwa dirinyalah yang paling layak dipestakan.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by Olya Adamovich from Pixabay

Comments

comments