11. Pemulihan

Viewed : 994 views

Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya : Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (Lukas 15:22)

Sang ayah tahu apa yang harus diperbuatnya, Ia dahulu adalah anakku dan sekarang pun adalah anakku. Tidak ada bedanya dengan anakku lainnya yang tinggal bersamaku. Ia mempunyai hak yang sama dengan yang lainnya.

Dengan tidak sabar sang ayah menyuruh hamba-hambanya untuk menyiapkan jubah, cincin, dan sepatu yang terbaik dan mengenakan kepada anak bungsunya.

Si bungsu diam dalam kebingungan, tidak mengerti lagi terhadap respon ayahnya. Pikirnya, “Aku hanya ingin pulang supaya aku tidak mati kelaparan. Aku juga tidak pantas lagi disebut sebagai seorang anak lagi. Aku lebih baik menjadi hamba di rumah ayahku. Tetapi mengapa aku diperlakukan seperti ini?”

Dirinya gelisah dengan penyambutan ayahnya yang luar biasa, dia merasa tidak pantas mendapatkan semuanya itu. Hal yang besar dan diluar kontrol dirinya sedang terjadi dihadapannya, di tengah-tengah rumah bapaknya. Ia tidak mampu mencegah, menolak atau menghindar dari kasih dan kebaikan ayahnya. Ia tidak memiliki dasar untuk menolak setiap perlakukan yang diterimanya.

Sudah sekian lama ia tidak mandi, dan hanya bergaul dengan kawanan babi. Tubuhnya kotor dan kusut. Para hamba di rumah ayahnya menyiapkan ramuan rempah harum yang terbaik untuk menyegarkan kembali badan anak bungsu. Kemudian pakaian dikenakan oleh para hamba ayahnya, kemduian diikuti dengan sepatu dan jubah kehormatan. Sang anak bungsu sudah menjadi orang yang berbeda, penampilannya bak gelandangan sudah tergantikan dengan kemegahan seorang pangeran.

Akhirnya dengan tangan gemetar ia menerima cincin untuk dipasangkan di jari tangannya. Ia kaget dengan peristiwa ini, ini adalah sebuah mujizat bagi dirinya. Ia mendapatkan lebih dari pada yang dia harapkan. Cincin itu sebagai tanda jikalau ia telah sah menjadi anak dari ayahnya, meskipun ia telah mendurhakai ayahnya, tetapi dirinya diterima sepenuhnya oleh ayahnya.

Ia diampuni, dipulihkan, diangkat kembali menjadi anak ayahnya.

Ia tahu cincin ini menjadi simbol sosial bahwa dirinya diterima sepenuhnya di rumah ayahnya. Ia lebih tinggi dari para hamba ayahnya dan semua hamba ayahnya adalah hambanya juga.

Dalam sekejab semua itu terjadi. Ia telah menerima kasih karunia ayahnya. Ia bersukacita.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by Pexels from Pixabay

Comments

comments