Susu Vs Makan Keras

Viewed : 8 views

Ibrani 5:11-14
Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.
Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Ada seorang anak yang sudah tergolong besar secara fisik, tetapi anehnya belum berhenti menyusu dari ibunya. Ibunya dan dia sendiri repot, karena setiap saat tertentu harus bertemu untuk menyusu. Teman-temannya pun terheran-heran kok sudah besar seperti itu harus disapih oleh ibunya.

Secara rohani banyak orang masih bersikap seperti anak yang masih menyusu itu… masih terus butuh SUSU rohani, masih bermanja-manja secara rohani. Semestinya sudah bisa makanan keras… bersikap dewasa, tetapi LAMBAN dalam sikap. Sering masih ingin dipuji-puji sebagai dasar untuk bertindak, perhatikanlah… itulah sifat anak kecil.

Bila tidak ditanggapi dan tidak direspons apa yang dia lakukan yang dianggapnya dia BERJASA, dia bisa marah dan protes. Bahkan siap demo dengan caranya untuk menuntut HAK. Gelar dan titelnya saja lupa dicantumkan, dapat menjadi persoalan besar. Inilah ciri-ciri kanak-kanak rohani, yang meski sudah lama ikut Tuhan dan sudah banyak pengalaman, namun SIKAP, TINDAKAN dan CARA BERPIKIRnya tidak dewasa. Penilaiannya terhadap orang sangat dangkal dan cenderung melihat orang-orang dari tampak luar. Terlalu banyak saraf singgungnya karena cepat tersinggung. Fokusnya adalah diri dan seleranya, bukan APA yang dikehendaki Allah.

Bagi seorang anak kecil, selalu baginya BUNGKUS lebih penting dari ISI. Seorang anak kecil akan selalu berusaha menarik fokus perhatian orang untuk tertuju kepadanya.
Ibrani 5:11-14
Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.
Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Apa ukuran dan tanda kedewasaan seseorang?
Apakah bergantung usia?
Secara fisik, mungkin usia yang menjadi patokan dalam kedewasaan. Tetapi bagaimana dengan sikap, perilaku, terlebih iman?
Usiakah patokannnya?

Di dalam ayat firman Tuhan di atas, tidak dimaksudkan untuk merendahkan kita. Bukan pula untuk menjatuhkan kita.

Mari kita memandang dan meyakini bahwa firman Tuhan adalah sebagai suatu perintah tegas, lugas dan tajam serta terasa menyakitkan bagi kita. Kita butih firman-Nya. Sebab itu terimalah dengan hati terbuka sebagai didikan dan pengajaran agar kita bangkit dan menjadi dewasa dalam iman.

Oleh karena kesulitan atau alasan lain, kita akui sering lamban melakukan sesuatu yang baik dan berguna dari firman-Nya.

Seharusnya kita sudah selesai dan rampung melakuan sesuatu, tapi belum tuntas. Kebiasaan menunda sering kita alami, terlebih sering abai terhadap apa yang menjadi kehendak Alah dalam hidup kita.

Sebagai anak Tuhan, mari bersiap menyantap dan mencerna makanan keras yang menyehatkan. Terimalah segenap firman-Nya dan aminkanlah itu agar kita semakin dewasa dan berkenan di hadapan Tuhan. Agar melalui hidup kita Allah ditinggikan, dimuliakan dan dimashyurkan.

Mari saling mendukung dan saling mendoakan agar kita semakin bertumbuh dan berbuah serta semakin dewasa dalam setiap tindakan dan sikap.

Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Comments

comments