Kurban Agung – Kristus Sang Pemenang

Viewed : 22 views

Sahabat yang terkasih,

Di dalam masa kecil saya, ketika ada peringatan seribu hari orang meninggal dari kerabat atau tetangga, biasanya kami semua menantikan menu yang paling istimewa, yaitu gulai kambing. Bagi kami,makanan itu adalah makanan yang sangat special, karena pada masa kecil saya lauk pauk daging sangatlah langka. Saya tidak begitu memahami mengapa harus ada gulai kambing, kenapa tidak ditongseng atau disate? Salah satu jawaban yang paling mungkin menurut saya adalah supaya daging kambingnya bisa dibagi rata kepada seluruh kerabat dan para tetangga. Namun saya malah lupa menanyakan satu hal yang mendasar, mengapa perlu memotong seekor kambing? Bagi saya yang penting adalah ada gulai kambing yang menarik air liur, bukan makna rohaniah dari ritus itu tidak pernah saya ketahui.

Ketika pisau yang paling tajam menembus leher kambing tersebut, sang pemimpin upacara akan berkata (aslinya di dalam bahasa Jawa), “mBing, kambing, tolong antar si ____ (orang yang meninggal) ke surga.” Kemudian pada saat yang hampir bersamaan dilepaskan seekor burung merpati seraya berkata, “Tolong tunjukan kepada kambing ini, jalan yang harus ditempuhnya untuk ke surga supaya tidak tersesat.”

Mengapa perlu memotong/mengorbankan seekor kambing ketika memperingati kematian? Mengapa perlu ada darah tercurah bagi ritus “selametan” (baca: keselamatan) yang dilakukan.Mengapa perlu seekor merpati untuk menunjukkan jalan kepada kambing itu?

** *

Ritus korban ternyata telah menjadi budaya yang sangat biasa di dalam masyarakat kita pada umumnya. Karena sifatnya yang subtle, tersamar, dan penuh makna simbolik, sehingga kita lebih banyak melihat mitos yang mengiringinya dibandingkan hakekat yang ingin disampaikannya. Apalagi bagi seorang penonton dari acara adat ritus itu, maka upacara kurban “selametan” beserta semua uba rampe (persyaratan ritus) yang terhampar tidaklah mempunyai banyak arti, kecuali ada unsur estetika dari ritus itu ditonjolkan, maka sebagi penonton saya akan lebih mengapresiasi.

Namun di balik ritus tersebut, sejatinya terjadi sebuah pertarungan eksistensial sedang terjadi, dimana muaranya adalah pengharapan akan berita keselamatan. Sehingga ritus kenduri “selametan” yang dilakukan sebenarnya juga adalah kegembiraan bagi yang menerimanya.

Setiap tradisi kesukuan memiliki ritus-ritus yang spesifik untuk proses “selametan” ini, namun ada satu yang generik di dalam ritus tersebut, yaitu adanya darah hewan hewan yang tercurah, apakah itu ayam, penyu, kambing, domba, kerbau, sapi atau bahkan babi atau malah manusia. Dimana setiap ritus menuntut persyaratan yang istimewa terhadap kualitas dan kuantitas yang dikorbankan, bersih, tidak bercacat, tidak sakit, memiliki warna tertentu, dan sebagainya. Pun di dalam menyembelih ada doa yang mengiringi seiring tercurahnya darah hewan korban. Ketika kematian dari hewan korban menjemput maka transaksi secara alam ruhani yang menjadi inti “selametan” telah terjadi, sehingga pesta syukur, atau kenduri baru bisa dilakukan.

Tidak banyak yang mengetahui proses ini, karena biasanya tertutupi oleh hiruk pikuknya kemeriahan prosesi kenduri yang sedang terjadi, atau biasanya proses ini dilakukan di dalam ruang-ruang private keluarga atau komunitas yang melakukannya sebelum kemeriahan kenduri dilakukan. Seorang yang berperan sebagai pemimpin upacara akan memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang disyaratkan, dan melakukan ritus tersebut sesuai yang telah digariskan. Semua harus tanpa cela.

Dan kenduri inilah yang sering menjadi simbol populernya, perjamuan makan untuk memperingati peristiwa tersebut. Kenduri ini adalah perayaan, ucapan syukur, bahwa berita gembira karena transaksi ruhani melalui ritus korban “selamentan” yang dilakukan telah selesai, sehingga sudah layaknya kita bergembira. Hidangan yang utama adalah makanan dari hewan kurban yang dimasak istimewa tersebut beserta makanan penggugah selera lainnya.

***

Manusia memiliki kerinduan akan Allah yang sejati, demikian kesimpulan Don Richardson di dalam bukunya Eternity in Their Heart, mengungkapkan hasil disertasinya tentang kehidupan religi suku- suku bangsa di dunia. Sehingga Don Richardson menemukan analogi-analogi kurban penebusan di hampir semua suku yang ada di dunia dengan berbagai ragamnya. Ada sebuah kerinduan mendasar akan keselamatatan yang harus dipenuhi di dunia yang keras tanpa anugrah ini.

Bagi Rene Girard, seorang antropolog kelahiran Prancis yang menerbitkan bukunyaViolence and The Sacred mengungkap sebuah teori tentang mekanisme kambing hitam (scapegoat) sebagai unsur utama pembentuk agama. Girard berpendapat bahwa agama berasal dari ritual korbani, hal ini didasarkannya pada studinya tentang kesamaan ritual korbani pada agama-agama di dunia, dan disandarkan pada teorinya terdahulu: hasrat peniruan (mimetic desire) yang ditulis dalam bukunya “Deceit, Desire and The Novel” (1961).

Secara singkat dapat diterangkan teori kambing hitam (the scapegoat theory) itu sebagai berikut: manusia pada dasarnya suka meniru karena ia memiliki hasrat peniru (mimetic), dalam meniru ia akan mencari model. Lama-kelamaan model itu dirasa sebagai saingannya, dan karena posisi model dan subyek peniru sejajar maka timbullah konflik. Konflik itu kemudian melahirkan kekerasan.

Kekerasan menjadi wabah yang menjangkiti komunitas, karenanya harus dihindari. Namun manusia sudah terlanjur memiliki hasrat kekerasan dan hasrat itu harus disalurkan, jadilah penyaluran kekerasan itu diarahkan kepada yang lain. Sesuatu (manusia/binatang) yang menjadi sasaran kekerasan sebenarnya tidak salah, tapi ia dijadikan kambing hitam atas kesalahan masyarakat.

Namun mekanisme korban pengganti itu haruslah tidak diketahui pelakunya agar penyaluran kekerasan bisa efektif, jadilah kemudian muncul tata ritus. Dari tata ritus berkembanglah mitos dan mitos berkembang menjadi agama. Inilah yang pada akhirnya membuat Girard berkomentar bahwa agama adalah ‘istilah lain bagi kegelapan terselubung yang menaungi manusia dalam usahanya untukmembela diri dengan tindakan-tindakan preventif dan kuratif melawan kekerasannya’ (Girard: 1972).

Mencomot tulisan Girard dan Don Richardson, sejatinya ritus kurban/penebusan adalah sebuah obat penawar bagi dosa manusia yang terekspresi di dalam hasrat kekerasan. Sehingga perlu kambing hitam sebagai korban pengganti dan penawar dari kekerasan tersebut. Setiap ritus membutuhkan kambing hitam sebagai korban tebusan atau obat penawar bagi kekerasan hati (dosa) manusia.

Sehingga ritus “selamentan” akan terus berulang dan tidak akan pernah berhenti sampai tibanya kurban yang sejati. Di dalam uraiannya yang lebih lanjut, Girard menjelaskan makna Kurban Yesus Kristus mengakhiri mimesis dari ritus tersebut, dan di dalam Yesus Kristus tidak diperlukan kambing hitam lagi.

** *

Ketika Nabi Yohanes melihat Yesus Kristus, seruan pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Agnus Dei, qui tolis peccata mundi,” atau yang berarti “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”.

Sepertinya seruan Sang Nabi ini ingin memproklamirkan sebuah ritus agung yang akan dijalani oleh Yesus Kristus. Dialah kambing hitam yang final bagi segala hasrat kekerasan dosa manusia. Darahnya yang suci tidak ternoda menjadi dasar transaksi ruhani bagi keselamatan seluruh umat manusia. Dan ritus itu cukup sekali untuk selamanya.

Ritus Kurban Agung Yesus Kristus ini tidak dilakukan di dalam ruang private keluarga, atau komunitas atau bahkan di dalam ruang maha suci di Baitullah, tetapi ritus ini dibentangkan di hadapan umat manusia, menjulang antara bumi dan langit di kayu salib di bukit kematian. Korbannya mengakhiri ritus korban di Baitullah di Yerusalem yang selalu diadakan di setiap perayaan keagamaan, dan membongkar tirai pemisah antara Sang Khalik dan umatnya.

Mengahkiri tulisan ini, kembali ke analogi di awal, maka di dalam Yesus Kristus termaktub dua peran utama di dalam “selametan”, yaitu Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia yang menyediakan tempat di sorga loka yang kekal, dan di dalam dialah “merpati” yang sejati karena bukan hanya menunjukkan jalan, tetapi karena Yesus Kristus sendirilah jalan, kebenaran dan hidup yang kekal.

1 Terbongkarnya kasus Jefrey Epstein, menyingkapkan sisi gelap manusia, dan kasus ini diduga sebagai puncak gunung es, ada banyak sisi gelap dari manusia yang tidak terungkap. Sebuah sisi gelap di mana si Jahat melakukan mimesis atau peniruan yang menyimpang untuk memperbudak manusia melalui mekanisme kurban yang keji. Jika Kristus menjadi “Kambing Hitam” final untuk mengakhiri kekerasan dan membebaskan jiwa, jaringan okultisme modern—seperti yang terindikasi dalam kasus Jeffrey Epstein—justru menghidupkan kembali “transaksi ruhani” berdarah untuk melanggengkan kekuasaan dan dominasi. Dalam ruang-ruang privat yang tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia, mereka tidak lagi mempersembahkan hewan, melainkan mengeksploitasi dan mengorbankan sesama manusia sebagai bentuk penyembahan kepada kegelapan yang menuntut “darah” secara berulang demi kepuasan hasrat kekuasaan yang adiktif.

Praktik kegelapan ini merupakan parodi dari makna “selametan” yang sejati, di mana perjamuan yang seharusnya menjadi syukur atas anugerah Allah diubah menjadi kenduri penuh kengerian yang membelenggu pelakunya dalam perbudakan spiritual. Si Jahat menggunakan kerinduan dasar manusia akan perlindungan dan kekuatan untuk menjebak mereka dalam ritus ketaatan yang palsu, yang alih-alih membawa “ruwatan” atau perdamaian, justru menciptakan kehancuran bagi korbannya dan kemanusiaan. Di sinilah finalitas Kurban Agung Yesus Kristus menjadi semakin krusial; Ia hadir untuk membongkar tirai kegelapan tersebut dan membuktikan bahwa tidak ada lagi transaksi darah manusia yang diperlukan, karena hanya di dalam Dialah terdapat kemerdekaan sejati dari segala tirani mimesis yang mematikan

Di dalam finalitas ritus kurban “selametan” Yesus Kristus, maka saya bisa memandang hidup saya sebagai sebuah perayaan “kenduri” demi “kenduri”, untuk mensyukuri anugrah dan kebenaranNya yang sudah tercurah bagi umat manusia.

Epilog :

Kita memang hidup di dalam dunia yang penuh tanda-tanda, pasemon, perumpamaan, simbol- simbol untuk menggambarkan sesuatu realitas yang tidak kelihatan yang bekerja, sedang dan terus bekerja.

Dan salah satu analogi yang paling intens digunakan adalah analogi kurban/ selametan. Ketika menjelajah Kitab Suci, kita akan menemukan analogi penebusan yang berupa kurban ini menjadi sarana “ruwatan” antara Allah dan manusia; spt. yang dilakukan Habel, Kain, Nuh, Ibrahim, Musa, Ibadat di Baitullah, … mereka semua melakukan ibadah kurban (bukan hanya Abraham).

Ketika Nuh keluar dari bahtera, maka yang pertama kali di lakukan adalah memberikan kurban bakaran kepada Allah, dan Allah menyatakan janji kasih setiaNya kepada umat manusia di bumi melalui munculnya pelangi sebagai simbol janji setia keselamtan dari Allah.

Nah disini, ada misteri kapan mulanya kurban itu dilakukan. Menurut saya adalah ketika Adam dan Hawa diusir di dari Taman Firdaus, maka Allah membuatkan pakaian dari binatang/domba, dan itulah kurban pertama kali darah tercurah yang dilakukan oleh Allah, supaya kulit binatang tersebut dapat dipakai untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa. Dan kurban yang sempurna itu pun digenapi oleh kehadiran di dalam Sang Firman, Yesus Kristus, yang darahNya yang tercurah sebagai Kurban Agung di kayu salib. Ini pun juga ternyata atas kehendak Allah.

(Semua kisah tentang kurban hanya merupakan salah satu bagian dari pasemon, perumpamaan, simbol2 yang bisa kita tangkap dari maksud kedatangan Yesus Kristus di dunia ini. )

Ketika melihat makna kurban yang dilakukan hanya sebagai sebuah ritus ketaatan, maka makna “selametan/ruwatan” secara ruhani dari kurban itu, yaitu transaksi “kambing hitam” atas dosa/kesalahan/pelanggaran manusia (wujud dari kerinduan akan keselamatan) bisa menjadi kabur/hilang.

Itu juga yang dijumpai oleh orang Israel, mereka sangat mentaati ibadah kurban tersebut, tetapi kehilangan makna yang sejati akan kurban, yaitu kesadaran akan kehancuran hati (yang tidak dapat diandalkan) dan pengharapan akan keselamatan dari Allah. Sehingga Allah bersabda, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kupandang hina, ya Allah.” Dan iman yang sejati selalu lahir dari hati yang hancur dan remuk, sehingga ritus kurban menjadi bermakna. Ia tidak bermegah karena kegiatan kurban yang dilakukan (yang bisa menambah kredit nya di sorga), tetapi justru di dalam ibadah kurban itu lahir sebuah kesadaran akan kebutuhan keselamatan dari Allah, dan ia justru bermegah karena kesadaran di dalam hati yang remuk dan hancur tersebut, Allah berlimpah dengan kasih karunia dan kebenaran. Itulah iman.

Tetapi syukur kepada Allah, bahwa di dalam Yesus Kristus, simbol itu telah digenapi. Di dalam Yesus Kristus pokok iman itu mendapatkan landasannya yang sejati.

Dan sakramen adalah sebuah perayaan, itu adalah kenduri atas apa yang telah Yesus Kristus lakukan di dalam kehidupan orang percaya. Dan kehidupan orang percaya adalah kenduri demi kenduri untuk merayakan anugrah demi anugrah Allah. Dan perayaan itu menjadi dasar kehidupan orang percaya yang tidak hanya dikungkung tembok-tembok rumah ibadah, tetapi keselurahan hidup ini sebagaiibadah. Di dalam perayaan tidak ada ketakutan, tetapi sukacita dan pengharapan di dalam menjalani. hidup.

Malah saya berpikir bagaimana pengharapan akan keselamatan kekal (sebagai pernyataan umum Allah) itu senantiasa ada di dalam tradisi kehidupan manusia, dan simbol-simbol/ pasemon/perumpamaan apa yang digunakannya, dan bagaimana kegenapan dari semua itu? Bukankah Dia adalah Allah yang siap melimpahkan anugrah dan kebenaranNya di dalam setiap hati yang sungguh- sungguh mencari Nya?

Datanglah kerajaan Mu, jadilah kehendak Mu, Maranatha!

Kritus telah bangkit dan menang.

Selamat Paskah.

Soli Deo Gloria.

Teja Samadhi

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments